|
limabelasjanuariduaribusepuluh...
hampa... redup... senyap... sayup terdengar kumandang puji-pujian menyerukan keagungan sang Khalik.
Hari ini... untuk sejanak sang mentari merelakan janjinya pada sang bumi, janji setia untuk slalu mendampingi, menerangi, memberi cahaya kehidupan dimuka bumi...
hari ini... saat kumemandang fenomena keagungan sang Khalik... samagaha... melintas bayang seraut wajah... wajah yang dulu setia menemani hari-hariku... wajah yang dulu pernah mengukir indah mimpi-mimpiku...
tak terasa, lirih kusebut sebuah nama... Sebuah nama, yang dulu pernah mengukir hari-hariku... yang dulu setia menghias mimpi-mimpiku...
hari ini... saat kumemandang fenomena keagungan sang Khalik... samagaha... tak terasa mengalir lembut butir air penyesalan dari sudut mataku takala kulihat fenomena alam mengguratkan sebuah gambar... gambar yang begitu menakjubkan, gambar yang mengingatkanku akan sebuah janji untukmu...
aku adalah matahari dan kamu adalah bumi
hari ini... saat kumemandang fenomena keagungan sang Khalik... samagaha... aku ingin bumi tau... aku matahari... yang untuk sejanak merelakan janjinya pada sang bumi, janji setia untuk slalu mendampingi, menerangi, memberi cahaya kehidupan dimuka bumi...
hari ini... saat kumemandang fenomena keagungan sang Khalik... samagaha... aku baru sadar.. ternyata sang matahari tak bisa memenuhi janjinya awan hitam menghalangi dia... dan saat matahari berhasil mengusir sang awan takdir berkata lain malam telah tiba...
---##---
untuk seseorang, yang hari ini terlintas dalam benakku.

|