|
Hari itu seperti biasa saya dan temen kerja pergi ke mesjid untuk melaksanakan shalat jum'at. Sepertinya hari itu kami datang agak telat, jadi kami mendapat tempat yang agak belakang. Setelah shalat sunat saya duduk dan menunggu waktunya adzan. Selang beberapa menit datang seorang anak kecil dan dia mengambil tempat di sebelahku, dia tersenyum dan menyalamiku, kemudian dia mengambil posisi untuk shalat sunat lalu menghamparkan sajadahnya, hm ternyata dia membagi sajadahnya denganku, kulihat hamparan sajadahnya ternyata saya dibagi bagian atas dari sajadah dan dia di bagian bawah. Saya menoleh dan memandang dia, dia tersenyum kembali sambil menganggukan kepala. serentak saya pun tersenyum dan menggangkukan kepala sambil berucap "terima kasih".
Saya termenung, teringat kejadian jum'at minggu lalu, waktu dan di mesjid yang sama, saya pun dibagi alas shalat (sajadah) oleh seseorang akan tetapi waktu itu oleh seorang dewasa dengan pakaian perlente dan kelihata terpelajar, bahkan mungkin orang terpandang, dilihat dari penampilannya. dia membagi sajadahnya dengan saya akan tetapi dia membagi saya di bagian bawah sajadahnya tersebut.
Dua kejadian yang hampir mirip, akan tetapi dengan pelaku dan sikap yang berbeda.
Dari dua kejadian tersebut ada yang mengganjal pikiran saya.
yang pertama tentang hal berbuat baik bagi sesama.
Menurut Anda mana diantara kedua kejadian tersebut yang paling baik? Bila menurut pendapat saya tentu perbuatan si anak kecil, dia rela memberikan yang terbaik bagi kebaikan. Memang dalam hal ibadah shalat Allah tidak mempermasalahkan tentang tempat shalat yang pasti suci dan terhindar dari najis. Akan tetapi dari segi amalan saya pernah baca ada ayat yang menyatakan "berikanlah hal yang terbaik yang dimiliki kamu untuk kebaikan, maka Allah akan memberikan pahala yang berlipat ganda."
“Dan berikanlah pinjaman kepada Alloh pinjaman yang baik. dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Alloh sebagai Balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Alloh; Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Muzzammil : 20)
yang kedua dari hal tatakrama dan kesopanan. Menurut Anda mana yang tau tatakrama dan kesopanan? Bila menurut saya tentu perbuatan si anak kecil. Alasannya pasti Anda sudah tau. Dari hal tatakrama dan kesopanan ini ada beberapa hal yang dapat saya simpulkan 1. Begitu langkanya di jaman sekarang ini yang mengerti tentang hal tatakrama dan kesopanan. 2. Tingkat pendidikan dan jabatan seseorang tidak menjamin tentang prilaku/tatakrama dan kesopanan dari orang tersebut. Kedua hal tersebut dapat disebabkan oleh banyak faktor, bisa faktor keluarga, pendidikan, lingkungan pergaulan, dll. Dari faktor keluarga, Sekarang ini banyak keluarga yang tidak lagi mempedulikan tentang tatakrama dan kesopanan dari anak-anaknya, atau ada pula orang tua yang menuntut sopan santun dari anaknya, akan tetapi dia sendiri tidak pernah mengajarkan apa itu sopan santun dan tatak rama bahkan cenderung memberi contoh yang negatif tentang tatakrama dan kesopanan terhadap si anak.
Faktor sekolah, faktor ini memang cenderung lebih ke kapitalis, dimana sekolah sekarang ini lebih mementingkan kualitas pendidikan formal. Memang ada mata pelajaran yang mengajarkan tentang sosialisasi dan norma kesopanan dulu disebut PMP, PPKN, PKN atau apalah sebutannya sekarang, tapi itu tidak dapat menjamin juga karena ada faktor linkungan yang nota bene lebih berpengaruh terhadap prilaku si anak, dimana dimasa sekarang ini kegiatan anak lebih banyak porsinya di lingkungan pergaulan daripada di keluarga dan sekolah.
Huff... kok jadi melantur jauh, hehhe... kayaknya dah waktunya solah neh hehehe...
yang pasti terima kasihku buat ade kecil yang telah memberi pelajaran nyata tentang kebaikan dan kesopanan... salut untuk kamu.  Smoga kamu menjadi generasi harapan bangsa yang tetap menjaga norma-norma dan agama.

|